Friday, March 30, 2007

MAJU TERUS INSAN KREATIF INDONESIA...!!!

Salam hangat saya bagi seluruh rekan-rekan desainer Indonesia. Ditengah padatnya jadwal kampus dan kegiatan lain, Alhamdulilah saya masih bisa menyelesaikan blog ini dengan lancar. Menyikapi kondisi ekonomi dan politik di Indonesia yang tak menentu saat ini, merupakan tantangan bagi kita semua untuk terus survive menangkap celah peluang yang ada. Menurut teori ekonomi “New Growth Theory”, Paul Romer mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi tak semata dimotori oleh pertambahan modal dan tenaga kerja, tapi juga oleh satu unsur penting, yaitu: ide. Komponen Ide merupakan kunci dalam memberikan keunggulan yang signifikan.
“New Growth Theory” telah banyak diterima dikalangan ekonom negara-negara maju. Teori ini berkaitan erat dengan konsep “ceative economy” yang sedang populer saat ini. Sehingga tak pelak lagi, inovasi yang berorientasi pasar merupakan hal mutlak yang harus dilakukan dalam lanskap marketing strategic yang diterapkan dalam kondisi persaingan yang makin kompetitif saat ini. Komponen ide sendiri memiliki suatu keunikan multiplikasi. Artinya, ide dapat digandakan tanpa atau dengan sedikit biaya. Bahkan suatu ide sederhana yang bisa diterapkan secara luas, bisa jadi akan memberikan dampak ekonomis yang luar biasa besarnya. Contohnya, Roger dalam suatu wawancara memberikan suatu gambaran tentang tutup cangkir kopi. Dahulu tutup cangkir kopi memiliki diameter yang beragam, menyesuaikan dengan diameter cangkir masing-masing. Namun bayangkan jika tutup kopi diseragamkan, maka berapa ribu jam atau juta jam kerja yang bisa dihemat hanya karena ide sederhana ini. Contoh lain, suatu ketika saat saya berada di salah satu hotel di Malang, saya melihat begitu banyak orang menunggu lift dengan ekspresi penuh kebosanan. Lalu saya menemui salah seorang bellboy untuk memberikan saran, bagaimana kalau di dekat ruang tunggu lift diberikan kaca. Dan ternyata usul saya dipenuhi, alhasil orang-orang yang menunggu lift tidak jenuh karena sibuk berdandan didepan kaca. Hotel tersebut akhirnya meninggalkan kesan yang positif bagi pelanggannya. Jika semua hotel memiliki kaca disamping ruang tunggu lift, maka tidak akan ada lagi komplain mengenai lift yang lambat.
Sebagai insan kreatif tentu kita memiliki berbagai macam ide inovatif yang dapat berpotensi membawa kebaikan bagi semua orang. Namun bagaimana kita menggali ide, mengutarakan dan menjalankan, sampai menjadi kenyataan? Hal inilah yang perlu dilatih sejak dini. Kalau kata AA Gym, dimulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil, dan dari saat ini. MAJU TERUS INSAN KREATIF INDONESIA...!!!

ATV LOOK 2007


Software : Afx , Psd, 3DS Max, AI
Duration : 15 dtk
Masih triall sih, ngerjainnya bareng sama Mas Wiyan. Thanx mas atas ilmunya. HIDUP MOGRAPH MALANG!!!

Who Wants To Be Genius Marketer?

Pemasaran jenius hanya bisa dicapai jika marketer punya keyakinan, kemampuan, ambisi, dan inspirasi untuk mewujudkannya. Para marketer ini harus sanggup meningkatkan diri, pemikiran, dan tindakan mereka; sehingga bisa mengeksploitasi pasar yang kompleks secara cerdas (bukan mematuhinya) dan bisa mengembangkan merek yang “berwawasan” (bukan merk yang difungsikan secara sama).
Dalam buku Marketer Genius, Peter Fisk merumuskan marketer yang terinspirasi sebagai mereka yang melihat apa yang dilihat setiap orang, tapi memikirkan apa yang orang lain tidak pikirkan. Punya keahlian dan alat yang sama, tapi melakukan apa yang orang lain tidak perbuat. Juga menghadapi tantangan yang sama, tapi berhasil tidak seperti orang lain sebelumnya.
Tampaknya sulit, namun setiap orang bisa seperti itu. Teori para ahli Rusia tentang adanya gen jenius, salah! Yang benar justru Thomas Edisson: ini adalah tentang 99% kerja keras, dipandu dengan sedikit inspirasi. Inspirasi tersebut amat berarti sebagai pemacu untuk mendorong tindakan atau sebagai cahaya yang membuka cakrawala berpikir.
Nah, apa pun sumber inspirasinya, kerja keras juga diperlukan. Akhirnya, cara kita bekerja adalah lebih bersifat melengkapi ketimbang bersifat kompetitif. Sebab tidak ada orang yang murni berpikir dengan otak kiri atau murni otak kanan. Yang satu kreatif, dan yang lainnya analitis. Pendeknya, jenius adalah merangkul hal-hal ekstrim dan menemukan kekuatan positif. Lantaran merupakan kombinasi otak kanan dan kiri, maka kreatifitas pun diperkuat dengan analisis, dan kecerdasan diperkaya dengan imajinasi. Hal ini menghubungkan peluang yang datang dari luar ke dalam dengan kemampuan bekerja dari dalam ke luar. Dengan begitu, dia bisa menemukan solusi yang gemilang pada hari ini dan hari esok. Tengok saja apa yang dilakukan Richard Brenson dengan Virgin Corporation-nya. Atau Hermawan Kertajaya dengan Mark Plus-nya. Terus terang mereka sering menjadi sumber inspirasi saya.
Marketer jenius merangkul hal-hal ekstrim. Mereka terinspirasi oleh kontradiksi, masalah-masalah, paradoks, ketidaktahuan, dan hal yang tidak masuk akal. Mereka adalah “pasukan garis depan” yang hidup diantara apa yang dianggap mungkin dan tidak mungkin, diantara pasar dan bisnis. Diantara pelanggan dan produk, serta diantara hari ini dan hari esok.
Tantangan bagi para marketer yang terinspirasi bukanlah teori. Ada banyak model dan teknik untuk marketing, serta tentu saja riset-riset akademis yang terpaku pada detil ketimbang bergerak maju. Tantangan mereka bukan pula pada sisi operasional. Melakukan hal yang keliru dengan benar mungkin lebih baik daripada sekedar melakukan hal yang keliru. Jadi diperlukan pemikiran yang tepat dan cara baru dalam mengerjakannya agar bisa merangkul ekstrim-ekstrim tersebut, untuk membawakan orang bersama anda dan memberikan hasil yang luar biasa. Nah, sudah siap menjadi marketer handal?

Sunday, March 11, 2007

Pemasaran Kontekstual, Internet, dan Brand


Ketika fokus ekonomi baru pada internet berkisar soal disintermediasi, pengurangan biaya, dan model-model bisnis baru, bisnis tradisional justru dihadapkan pada pertanyaan fundamental: dapatkah internet membantu menegakkan brand? Dengan gaya kaku dan tidak mudah berubah di sebagian situs web, para pebisnis berkesimpulan, jika internet tak banyak menunjang pembangunan nilai-nilai brand perusahaan.
Memang, internet baik untuk mendukung transaksi, tetapi konsumen dengan mudah pindah ke situs lain tanpa merasakan keterikatan batin. Namun, prinsip dasar pemasaran bukan hanya transaksi. Sesungguhnya, pemasaran di internet mengalami transformasi, yaitu pergeseran dari pemasaran produk ke pemasaran kontekstual. Selama beberapa dasawarsa, pemasaran produk klasik dibangun di atas dua pilar, yaitu kinerja produk dan citra produk.
Berikutnya, para pemasar melakukan apa saja untuk memperbaiki kualitas produk dan citra. Pembuat sup, misalnya, telah mencoba berbagai bumbu, semua bumbu alami, bumbu yang lebih kental, dan bumbu dengan rasa baru untuk membedakan dan menyempurnakan produk-produk mereka. Lalu, dengan bantuan periklanan massal, produsen mencari dan menciptakan citr-citra merek produk baru agar tetap relevan bagi generasi demi generasi.
Kini internet menyediakan bagi pemasar sebuah alat yang efisien untuk memberikan dimensi-dimensi baru pada produk-produk massal. Kini, merek produk telah mempepanjang relevansi serta relasi mereka dengan konsumen melalui internet. Kini para konsumen tidak lagi mencari sup dalam kaleng, tetapi juga berusaha memahami dan mengerti lebih banyak tentang konteks pemakaian produk. Bukan hanya bagaimana kinerja produk itu masuk ke dalam hidup mereka dan membantu mereka.
Konsumen secara aktif mencari lebih banyak informasi serta pengetahuan dibandingkan sebelumnya: mereka tidak hanya sekedar membeli popok, tapi mereka ingin mengetahui bagaimana seharusnya merawat bayi. Oleh sebab itu, merek-merek di internet kini memanfaatkan peluang untuk membahas isu-isu kontekstual yang lebih luas untuk membina relasi merek yang lebih dalam dan lebih bermakna dengan para konsumen.
Pendorong utama revolusi pemasaran kontekstual adalah informasi dan edukasi. Adalah benar bahwa relasi program pemasaran di luar internet dalam bentuk kegiatan di toko, program komunitas, dan klub, selama bertahun-tahun telah memperluas jangkauan merek-merek. Yang masih kurang adalah mekanisme yang efisien untuk menyampaikan informasi baru yang lebih kompleks kepada masyarakat.

Selama ini, para pemasar meluncurkan program-program pemasaran relasi massal yang tidak benar-benar memberikan informasi yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen seperti peluang di internet. Situs-situs web yang baik memungkinkan pengunjungnya menelusuri kebiasaan-kebiasaan mereka, menyediakan kalkulator dan berbagai layanan diagnostik untuk memudahkan konsumen menganalisis apa yang mereka butuhkan, menghibur dan membangkitkan rasa ingi tahu tentang informasi yang terkait dengan merek-merek mereka.
Dalam beberapa produk tradisional, pemasaran kontekstual di internet memvuka cara-cara baru untuk menciptakan relevansi baru ke konsumen. Situs web milik Pond’s di Asia, misalnya, menjadi perpanjangan tangan Ponds’s Institute. Situs ini memudahkan konsumen belajar bagaimana cara merawat kulit mereka. Para konsultan kulit dapat dihubungi melalui situs tersebut, sehingga para pemakai dapat memperoleh nasehat yang personal. Jadi sementara janji yang diberikan sebuah merek tidak berubah, internet menambahkan dimensi baru pada pengalaman konsumen dengan merek tersebut.
Bagi merek-merek lain, konteks pemakaian produk mungkin akan mendorong mereka ke dalam bidang interaksi baru dengan konsumen. Semua itu memberikan kepada pemain berbagai peluang baru untuk membina hubungan yang lebih kuat antara merek mereka dan konsumen. Namun tantangannya juga ada, pertama, banyak perusahaan yang akhirnya bergeser dari bisnis awal ketika berusaha menjadi penyedia informasi. Kedua, guna mengukuhkan hubungan dengan konsumen di internet, pemasar harus siap untuk interaktif, untuk menjawab pertanyaan mereka atau untuk mendesain cara-cara baru yang inovatif agar konsumen dapat meningkatkan pengetahuan mereka sendiri.
Akhirnya, pemasaran kontekstual mencakup satu jenis pesaing baru yang biasanya tidak ditemukan dalam jajaran pesaing yang klasik. Pembuat mobil misalnya, mungkin saja memiliki minat yang sama untuk menguasai ruang permobilan yang di incar oleh merek-merek bensin. Revolusi pemasaran kontekstual pasti akan menantang merek-merek, tetapi revolusi ini juga memberikan pemasar kesempatan barharga yang tidak boleh mereka sia-siakan.