Menilai Sebuah Karya Seni

Mei ini saya ingin membicarakan mengenai seni, mengapa? Kadang seni selalu di anak tirikan dalam pengembangan jurusan seni rupa dan desain di Indonesia. Padahal desain sendiri berasal dari rumpun seni terapan. Jadi sepatutnya seorang desainer harus mengenal seni dengan baik.
Baiklah, penilaian atau evaluasi di dalam seni sering menjadi bahan perdebatan yang tak kunjung ada habisnya dan menarik untuk dibicarakan. Pada prinsipnya evaluasi seni sendiri dibagi dua, yaitu penilaian obyektif dan penilaian subyektif. Penilaian subyektif adalah penilaian yang didasarkan pada selera atau kesukaan. Penilaian ini dapat berubah-ubah tergantung pada selera penilai, sehingga tidak dapat dipertanggung jawabkan dan sulit dijelaskan secara empiris, karena penilaian ini datang dengan sendirinya lewat perasaan sang penilai. Sedangkan penilaian obyektif adalah penilaian yang didasarkan pada ketentuan atau aturan tertentu yang rasional. Penilaian obyektif ini banyak dikembangkan oleh para pemikir seni dan memunculkan teori-teori baru dalam menilai seni.
Salah satu teori obyektif yang terkenal adalah teori Beardsley. Teori ini memiliki dua macam penilaian, yaitu teori kriteria umum yang menilai tingkat kapabelitas dan teori instrumentalis yang menilai kapasitas sebuah karya seni. Teori Beardsley ini seperti teori-teori lain berusaha menciptakan pemikiran yang obyektif, namun faktanya penilaian ini memiliki kecenderungan kearah karya seni tertentu sebagai karya seni yang baik, akan tetapi karya seni yang lain walaupun menurut institusi sosial baik, menurutnya tidak.
Didalam teori kriteria umum, kriteria yang diterapkan seorang penilai dapat berbeda dengan yang lain Masihkah teori Beaerdsley ini dapat dipertanggung jawabkan. Walaupun disini Beardsley memberikan ciri-ciri umum yaitu unity (kesatuan), complexty (keragaman), intencity (kekuatan). Tetapi dalam penerapannya masing-masing berbeda penilaiannya pada ciri-ciri umum tersebut tergantung pada pengalaman dan juga selera. Suatu contoh Plato menganggap bahwa lukisan ini bagus kesatuan unsurnya, namun Aristoteles menganggap kurang bagus karena tidak memiliki kesatuan struktur bentuk.
Akhirnya pada teori instrumentalis, dalam menentukan kapasitas karya seni juga relatif berbeda dari setiap penilai. Dalam menentukan derajat masing-masing unsur kriteria umum, setiap penilai dapat berbeda tergantung pada pengalaman dan selera penilai. Misalnya penilai A memiliki selera lebih terhadap karya seni yang memiliki kesatuan bentuk, maka derajat yang diberikan lebih besar dari yang lain pada karya seni tersebut. Lalu penilai B memiliki kepekaan dan pengalaman yang lebih terhadap keragaman suatu karya seni maka hasil derajat yang diberikan berbeda dengan penili yang lain. Juga dapat terjadi penilai C memliliki kecenderungan suka terhadap karya seni yang memiliki kemiripan dengan bentuk obyek aslinya, maka dia memberikan derajat yang tinggi pada karya seni tersebut.
Kesimpulan yang terjadi, bagaimanapun juga karya seni merupakan karya yang tercipta dari rasa, maka dalam menilaipun pasti sedikit banyak perasaan kita terlibat. Penilaian yang diberikan tidak dapat sepenuhnya obyektif.
Salah satu teori obyektif yang terkenal adalah teori Beardsley. Teori ini memiliki dua macam penilaian, yaitu teori kriteria umum yang menilai tingkat kapabelitas dan teori instrumentalis yang menilai kapasitas sebuah karya seni. Teori Beardsley ini seperti teori-teori lain berusaha menciptakan pemikiran yang obyektif, namun faktanya penilaian ini memiliki kecenderungan kearah karya seni tertentu sebagai karya seni yang baik, akan tetapi karya seni yang lain walaupun menurut institusi sosial baik, menurutnya tidak.
Didalam teori kriteria umum, kriteria yang diterapkan seorang penilai dapat berbeda dengan yang lain Masihkah teori Beaerdsley ini dapat dipertanggung jawabkan. Walaupun disini Beardsley memberikan ciri-ciri umum yaitu unity (kesatuan), complexty (keragaman), intencity (kekuatan). Tetapi dalam penerapannya masing-masing berbeda penilaiannya pada ciri-ciri umum tersebut tergantung pada pengalaman dan juga selera. Suatu contoh Plato menganggap bahwa lukisan ini bagus kesatuan unsurnya, namun Aristoteles menganggap kurang bagus karena tidak memiliki kesatuan struktur bentuk.
Akhirnya pada teori instrumentalis, dalam menentukan kapasitas karya seni juga relatif berbeda dari setiap penilai. Dalam menentukan derajat masing-masing unsur kriteria umum, setiap penilai dapat berbeda tergantung pada pengalaman dan selera penilai. Misalnya penilai A memiliki selera lebih terhadap karya seni yang memiliki kesatuan bentuk, maka derajat yang diberikan lebih besar dari yang lain pada karya seni tersebut. Lalu penilai B memiliki kepekaan dan pengalaman yang lebih terhadap keragaman suatu karya seni maka hasil derajat yang diberikan berbeda dengan penili yang lain. Juga dapat terjadi penilai C memliliki kecenderungan suka terhadap karya seni yang memiliki kemiripan dengan bentuk obyek aslinya, maka dia memberikan derajat yang tinggi pada karya seni tersebut.
Kesimpulan yang terjadi, bagaimanapun juga karya seni merupakan karya yang tercipta dari rasa, maka dalam menilaipun pasti sedikit banyak perasaan kita terlibat. Penilaian yang diberikan tidak dapat sepenuhnya obyektif.
